Bukan tentang apa, bukan tentang mengapa. Bagimu mungkin menyenangkan untuk tertawa, tapi bagiku semua biasa saja. Biasa bukan berarti aku menyukainya, karena rasa suka tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata. Biasa saja bukan berarti aku membencinya, kadang kala rasa benci terlalu unjuk diri hingga aku harus menjauhinya.
Bukan tentang cinta, tentang dia, atau tentang siapa. Hanya tentang aku dan kau yang tak mau bicara. Bicara memang tidak mudah, meski diam menyesakkan dada. Kau tahu, kadangkala aku begitu frustasi mendengar sesuatu yang sama sekali tak ku mengerti. Menumpahkan perasaan pada ujung jari dituts-tuts keyboard pada notebook putih. Kau tahu, meski aku mencoba berkali-kali tetap saja mimpi hanyalah mimpi, apa mungkin terlalu tinggi atau aku yang tidak benar-benar menyelami.
Kau yang diam, aku yang banyak bicara. Hai hati, tidak ku mengerti apa mau mu selama ini, banyak hal yang aku jalani tapi kau tak pernah merasa puas diri. Masih saja bingung, masih saja linglung. Bertanya-tanya apa yang ingin dilakukan, menerka-nerkan keadaan. Coba, coba saja kita singkron, senada, seirama, berjalan bersama pasti jadinya tak akan sedemikian rumitnya.
Ku mohon, beri aku kata kunci yang jelas. Apa yang bisa membuat tenang, membuat senang.
Kamis, 08 September 2016
Selasa, 06 September 2016
Ada Banyak Hal Yang Terjadi
Ada banyak hal yang
terjadi, tersimpan rapi sebagai sebuah memori. Ternyata sudah lama tak bersua,
berbalut keegoisan yang kian menjelma, mengikis kiat usaha yang tak disertai
do’a. Who I am I ? Judul film Jackie Chan ? Mungkin. Siapalah saya ini, hanya satu
dari sekian banyak orang yang suka sekali menanti, suka sekali meninggi, suka
sekali lupa diri. Bukan suka sekali, tapi memang sudah terbawa kebiasaan
sehari-hari.
Ada banyak hal yang
terjadi, melingkup indah dengan segenap pencitraan, memberi warna pada titik
hitam kehidupan. Setiap yang datang pasti akan pergi, kapanpun, dimanapun kita
pasti akan mengalami yang namanya meninggalkan atau ditinggalkan. Melupakan,
dilupakan, meninggalkan, ditinggalkan. Hak untuk pergi, hak untuk tinggal semua
sudah diatur dalam kebebasan yang dimiliki masing-masing individu. Kapan harus
kembali, kapan harus pergi lagi, semua sudah tersusun rapi sebagai dampak dari
kejadian sehari-hari. Bukan tidak mungkin, sesuatu yang pernah dekat sekali
jaraknya kini menjauh sejauh-jauhnya. Bukan tidak mungkin, sesuatu yang pernah
berjalan mengiringi kini mulai beranjak pergi. Bukan tidak mungkin :)
Ada banyak hal yang
terjadi, tertutup kemunafikan yang terus unjuk diri, mengaku tidak suka padahal
menyakiti diri sendiri. Kita tidak pernah tahu yang terjadi didepan, kadangkala
tanpa disadari banyak terjadi kebetulan. Kebetulan yang kadangkala bisa
menjatuhkan. Kapan saja kita bisa jatuh, jatuh pada sesuatu yang sebenarnya
begitu jauh, meringkuk kesepian menikmati gemuruh.
Ada banyak hal yang
terjadi. Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dua puluh tahun banyak
hal terjadi, terekam indah sebagai sebuah memori. Dua puluh tahun, entah apa
yang harus diperbaiki, kadangkala kebingungan lebih banyak daripada yang ingin
dilakukan. Assalamualaikum dua puluh :)
Kamis, 04 Agustus 2016
Hilang
Ada
yang hilang, kepingan terakhir dari puzzle yang ku coba susun ulang. Ada yang
hilang, bagian penting dari memori yang sebelumnya kuputar ulang. Ada yang
hilang, serpihan dari hati yang terbang melayang.
Ada
yang hilang, iya ada yang hilang.
Hilang.
Hilang berarti tidak ada, pergi entah kemana, atau tidak ditemukan dimana-mana.
Banyak hal dalam hidup yang akan hilang keberadaannya jika dibiarkan begitu
saja. Seperti debu jalanan, berterbangan atau habis disapu hujan. Hilang menyisakan
sesuatu, sesuatu yang amat sulit dipahami meski dijelaskan berkali-kali,
sesuatu yang abstrak meski dipetakan berulang kali. Hilang menyisakan sebuah
tanda taya tanpa makna, tanda tanya akan terbawa kemana nantinya, tanda tanya akan
seperti apa nantinya. Hilang menelusup kedalam jiwa, membuat pemberontakkan
kecil pada perasaan yang kian sirna, menembus dasar hati hingga sampai diujung
muara.
Sampai
hari esok, hingga sesuatu yang benar-benar kamu banggakan hilang nyaris tak
bersisa, saat arah dan tujuan entah kemana, saat passion yang semula kamu
banggakan perlahan-lahan sirna, terkikis habis oleh berbagai hal tak terduga.
Dimana kehidupan yang nyaman ? Dimana kehidupan impian? Dimana?. Hanya ada hati
yang rapuh entah kenapa terus saja mengeluh. Hanya ada pikiran dangkal yang
jalannya terus saja buntu. Disaat itu semua, disaat tekanan jiwa naik
intensitasnya, disaat kerapuhan mulai mengikis jiwa, hanya sebuah do’a yang
kupanjatkan pada sang pencipta.
3
bulan yang sia-sia. Hilang begitu saja tanpa sisa, membiarkan hari esok
menunggu tanpa jeda.
Jumat, 29 Juli 2016
Sesuatu Yang Kamu Sebut Rindu
Terlalu
dalam, terlalu pakam, sebuah kenyataan yang pernah kamu ceritakan. Hingga
sosok bernama rindu itu hadir, muncul
benihnya hingga tersebar kemana-mana. Menyebar bukan berarti banyak, hanya
secuil dan mulai bertunas secara tiba-tiba. Tunas itu tidaklah kuat hingga
sampai tumbuh menjulang, ia hanya berkecambah suatu saat bisa patah atau juga
terbawa derasnya hujan. Lagi pula, sesuatu yang kau sebut rindu itu bukanlah
sesuatu yang special, saking tidak specialnya ia tertelan malam hingga pagi kembali
memuntahkan. Saat sore hujan menerjang, membawa badai debu berterbangan sambil
menghapuskan, menyiram rindu hingga kehabisan. Rasanya baru kemarin, masih
seumur jagung, hingga kenyataan itu benar-benar patah. Saat mantra-mantra itu
habis, atau saat benih yang baru disemai terbawa air hujan. Saat itu, menunggu
adalah berita bohong seperti banyak terpapar di social media.
Oh
hati yang sedang rindu, entah sajak apa yang harus kupersembahkan untukmu.
Atau kata apa yang menggambarkan dirimu.
Merindu tidak harus cinta, tidak harus punya perasaan, tidak harus
dispesialkan. Rindu hanya sebatas rindu, sebatas keinginan untuk bertemu. Hanya
itu.
Reni
Ayt
Jumat, 22 Juli 2016
Perjalanan

Bukan
tentang pulang, bukan tentang kapan harus kembali, bukan tentang seberapa lama
akan pergi. Bagiku ini hanyalah sebuah perjalanan, perjalanan saat harus
membuka mata hingga petang menjelang, atau menatap kabut saat mata tak mampu terpejam.
Saat itu hanya dingin berbisikkan angin malam, menelusup dalam kepingan bara
hati yang kian padam, menyesap dalam kulit yang kian mengusam. Saat hati tak
mampu mengungkap, menyibak setiap takdir yang datang tanpa memihak. Saat bibir
tak mampu berucap, hanya desahan nafas lelah membuat sesak.
Disuatu
tempat diujung sana, dalam kehampaan bersama hati yang kian merana, bersama
penantian yang tak kunjung menjelma, ada harap-harap cemas saat aku mulai
melangkah. Banyak perjalanan yang menanti didepan sana, kini liburan kian
menipis, sebentar lagi pasti akan habis. Banyak hal yang harus dilakukan,
banyak pelajaran yang harus diterampilkan. Perjalanan, hingga suatu saat akan
berhenti. Entah kapan dan dimana.
Jumat, 17 Juni 2016
Senja
Selamat pagi, selamat
siang, selamat sore selamat malam, kapanpun kau membaca anggap saja aku seperti
sedang menyapa. Sudah lama aku tak mengisi blog, lebih dari sepuluh hari
mungkin. Mengapa aku melakukannya ? Aku hanya sedang bingung beberapa hari
belakangan, memutuskan menulis, membuka laptop, membuka word mengetik beberapa
kalimat lantas laptop kututup lagi, terus terjadi seperti itu ketika aku hendak
mencoba menulis sebuah cerita fiksi. Ada ide, buka laptop lagi, selang lima
menit aku bingung harus memulainya dari mana. Baiklah cukup basa-basinya.
Ketika
senja beranjak. Aku mulai gelisah melihat langit yang tak lagi ceria. Bukan tentang
mengapa ia harus pergi, tapi mengapa aku masih menunggunya disini seakan ia
akan cepat kembali. Ketika senja
beranjak, aku sibuk merangkai ribuan kata untuk ku jadikan kalimat tepat salam
perpisahan dengannya, tapi nyatanya aku terlambat saat malam menelannya
lamat-lamat. Ketika senja beranjak. Aku mulai kesepian menatap kepergiannya
dengan penuh kebodohan. Betapa bodohnya aku membiarkannya pergi begitu saja.
Betapa bodohnya aku tak sempat mengucap sepatah kata. Betapa bodohnya aku
hingga matahari hampir tenggelam aku masih sibuk menatapnya.
Senja,
kau yang hadir sesaat menyisakan banyak pertanyaan menggantung dipikiranku.
Mengapa harus sebentar diantara waktu satu hari yang dua puluh empat jam?.
Mengapa hanya hadir ketika matahari perlahan-lahan mulai tenggelam ?. Mengapa
tak kau biarkan aku yang bodoh ini tetap menatapmu sepuas yang ku mau?.
Tahukah
kau senja, aku dan segala hiruk pikuk dunia ini punya cerita. Aku hanya ingin
berbagi cerita seandainya kau memiliki waktu lebih lama. Tapi sayangnya,
waktumu hanya sebentar dan ketika aku ingin mulai pembicaraan aku hanya diam
terpaku menatap betapa agungnya yang telah menciptakanmu. Senja, yang ku tahu
beberapa hari ini kau tidak hadir, digantikan hujan yang pada akhirnya
membuatku ketakutan. Kilas cahaya yang membelah langit selalu tak mengenakkan.
Senja, aku suka hujan, tapi tidak dengan kilat dan petir yang memekikkan.
Senja,
aku selalu mengagumi mu. Aku adalah seorang pengagum yang tak pernah menujukkan
identitasnya. Betapa bodohnya aku ini, bukan ? Aku harap pertemuan-pertemuan
selanjutnya aku tak lagi merasa kesepian. Aku lebih bisa mengontrol perasaan.
Hanya memandangimu itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih senja, telah hadir
mempercantik langit di kala sore.
Penikmat
senja
Minggu, 05 Juni 2016
Assalamualaikum Ramadhan
“Aku
yang dulu bukanlah yang sekarang” Sedikit mengutip dari
lagu yang sering dinyanyikan orang-orang beberapa waktu lalu. Aku, kamu, kita,
mereka, bukanlah seorang yang selalu sama setiap waktunya, bukan pula menjadi
orang lain dengan segala keunikannya. Kita hanyalah orang yang bergerak maju,
mengungkap semua takdir yang terus melaju, menjadi pribadi baru untuk menjadi
kuat. Kuat bukan berarti dapat memikul semua beban yang berkilo-kilo dengan
kekuatan tangan. Kuat disini maksudnya lebih tegar, lebih sabar, lebih siap
dengan segala kedaan.
Orang-orang berkata
tentang masa lalu yang menyakitkan harus dilupakan, bagiku tidak harus seperti
itu. Masa lalu itu adalah bagian dari diri kita sendiri, semenyakitkan apapun,
setidak menyenangkan apapun, toh itu semua telah lewat dan hanya melintas
sesaat. Banyak hal terjadi begitu saja tanpa kita rencanakan, banyak pula
ekspresi yang kita tunjukkan. Sedih, senang, bingung, galau, datar, semua hal
terjadi karena rencana tuhan. Kadangkala kamu menyalahkan keadaan karena tak
pernah mau memihak, tapi sebenarnya kamulah yang tak pernah baik dalam memilih.
Aku, kamu, kita, mereka
mungkin punya cerita yang tidak menyenangkan, tapi aku, kamu, kita, mereka,
sekarang berbeda. Seseorang yang mungkin lebih dewasa dalam menyikapi
kehidupannya. Seseorang yang mungkin akan terus berbenah. Seseorang yang
mungkin terus bergerak maju menatap masa depannya.
Assamualaikum Ramadhan
Maaf atas semua khilaf
dan salah. Aku yang sekarang mencoba berbenah
Langganan:
Postingan (Atom)
