Kamis, 04 Agustus 2016

Hilang



Ada yang hilang, kepingan terakhir dari puzzle yang ku coba susun ulang. Ada yang hilang, bagian penting dari memori yang sebelumnya kuputar ulang. Ada yang hilang, serpihan dari hati yang terbang melayang.

Ada yang hilang, iya ada yang hilang.

Hilang. Hilang berarti tidak ada, pergi entah kemana, atau tidak ditemukan dimana-mana. Banyak hal dalam hidup yang akan hilang keberadaannya jika dibiarkan begitu saja. Seperti debu jalanan, berterbangan atau habis disapu hujan. Hilang menyisakan sesuatu, sesuatu yang amat sulit dipahami meski dijelaskan berkali-kali, sesuatu yang abstrak meski dipetakan berulang kali. Hilang menyisakan sebuah tanda taya tanpa makna, tanda tanya akan terbawa kemana nantinya, tanda tanya akan seperti apa nantinya. Hilang menelusup kedalam jiwa, membuat pemberontakkan kecil pada perasaan yang kian sirna, menembus dasar hati hingga sampai diujung muara.

Sampai hari esok, hingga sesuatu yang benar-benar kamu banggakan hilang nyaris tak bersisa, saat arah dan tujuan entah kemana, saat passion yang semula kamu banggakan perlahan-lahan sirna, terkikis habis oleh berbagai hal tak terduga. Dimana kehidupan yang nyaman ? Dimana kehidupan impian? Dimana?. Hanya ada hati yang rapuh entah kenapa terus saja mengeluh. Hanya ada pikiran dangkal yang jalannya terus saja buntu. Disaat itu semua, disaat tekanan jiwa naik intensitasnya, disaat kerapuhan mulai mengikis jiwa, hanya sebuah do’a yang kupanjatkan pada sang pencipta.
3 bulan yang sia-sia. Hilang begitu saja tanpa sisa, membiarkan hari esok menunggu tanpa jeda.

Jumat, 29 Juli 2016

Sesuatu Yang Kamu Sebut Rindu



Terlalu dalam, terlalu pakam, sebuah kenyataan yang pernah kamu ceritakan. Hingga sosok  bernama rindu itu hadir, muncul benihnya hingga tersebar kemana-mana. Menyebar bukan berarti banyak, hanya secuil dan mulai bertunas secara tiba-tiba. Tunas itu tidaklah kuat hingga sampai tumbuh menjulang, ia hanya berkecambah suatu saat bisa patah atau juga terbawa derasnya hujan. Lagi pula, sesuatu yang kau sebut rindu itu bukanlah sesuatu yang special, saking tidak specialnya ia tertelan malam hingga pagi kembali memuntahkan. Saat sore hujan menerjang, membawa badai debu berterbangan sambil menghapuskan, menyiram rindu hingga kehabisan. Rasanya baru kemarin, masih seumur jagung, hingga kenyataan itu benar-benar patah. Saat mantra-mantra itu habis, atau saat benih yang baru disemai terbawa air hujan. Saat itu, menunggu adalah berita bohong seperti banyak terpapar di social media.

Oh hati yang sedang rindu, entah sajak apa yang harus kupersembahkan untukmu. Atau  kata apa yang menggambarkan dirimu. Merindu tidak harus cinta, tidak harus punya perasaan, tidak harus dispesialkan. Rindu hanya sebatas rindu, sebatas keinginan untuk bertemu. Hanya itu.
Reni Ayt

Jumat, 22 Juli 2016

Perjalanan

Bukan tentang pulang, bukan tentang kapan harus kembali, bukan tentang seberapa lama akan pergi. Bagiku ini hanyalah sebuah perjalanan, perjalanan saat harus membuka mata hingga petang menjelang, atau menatap kabut saat mata tak mampu terpejam. Saat itu hanya dingin berbisikkan angin malam, menelusup dalam kepingan bara hati yang kian padam, menyesap dalam kulit yang kian mengusam. Saat hati tak mampu mengungkap, menyibak setiap takdir yang datang tanpa memihak. Saat bibir tak mampu berucap, hanya desahan nafas lelah membuat sesak. 

Disuatu tempat diujung sana, dalam kehampaan bersama hati yang kian merana, bersama penantian yang tak kunjung menjelma, ada harap-harap cemas saat aku mulai melangkah. Banyak perjalanan yang menanti didepan sana, kini liburan kian menipis, sebentar lagi pasti akan habis. Banyak hal yang harus dilakukan, banyak pelajaran yang harus diterampilkan. Perjalanan, hingga suatu saat akan berhenti. Entah kapan dan dimana.


Jumat, 17 Juni 2016

Senja



Selamat pagi, selamat siang, selamat sore selamat malam, kapanpun kau membaca anggap saja aku seperti sedang menyapa. Sudah lama aku tak mengisi blog, lebih dari sepuluh hari mungkin. Mengapa aku melakukannya ? Aku hanya sedang bingung beberapa hari belakangan, memutuskan menulis, membuka laptop, membuka word mengetik beberapa kalimat lantas laptop kututup lagi, terus terjadi seperti itu ketika aku hendak mencoba menulis sebuah cerita fiksi. Ada ide, buka laptop lagi, selang lima menit aku bingung harus memulainya dari mana. Baiklah cukup basa-basinya.

Ketika senja beranjak. Aku mulai gelisah melihat langit yang tak lagi ceria. Bukan tentang mengapa ia harus pergi, tapi mengapa aku masih menunggunya disini seakan ia akan  cepat kembali. Ketika senja beranjak, aku sibuk merangkai ribuan kata untuk ku jadikan kalimat tepat salam perpisahan dengannya, tapi nyatanya aku terlambat saat malam menelannya lamat-lamat. Ketika senja beranjak. Aku mulai kesepian menatap kepergiannya dengan penuh kebodohan. Betapa bodohnya aku membiarkannya pergi begitu saja. Betapa bodohnya aku tak sempat mengucap sepatah kata. Betapa bodohnya aku hingga matahari hampir tenggelam aku masih sibuk menatapnya.

Senja, kau yang hadir sesaat menyisakan banyak pertanyaan menggantung dipikiranku. Mengapa harus sebentar diantara waktu satu hari yang dua puluh empat jam?. Mengapa hanya hadir ketika matahari perlahan-lahan mulai tenggelam ?. Mengapa tak kau biarkan aku yang bodoh ini tetap menatapmu sepuas yang ku mau?.

Tahukah kau senja, aku dan segala hiruk pikuk dunia ini punya cerita. Aku hanya ingin berbagi cerita seandainya kau memiliki waktu lebih lama. Tapi sayangnya, waktumu hanya sebentar dan ketika aku ingin mulai pembicaraan aku hanya diam terpaku menatap betapa agungnya yang telah menciptakanmu. Senja, yang ku tahu beberapa hari ini kau tidak hadir, digantikan hujan yang pada akhirnya membuatku ketakutan. Kilas cahaya yang membelah langit selalu tak mengenakkan. Senja, aku suka hujan, tapi tidak dengan kilat dan petir yang memekikkan.

Senja, aku selalu mengagumi mu. Aku adalah seorang pengagum yang tak pernah menujukkan identitasnya. Betapa bodohnya aku ini, bukan ? Aku harap pertemuan-pertemuan selanjutnya aku tak lagi merasa kesepian. Aku lebih bisa mengontrol perasaan. Hanya memandangimu itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih senja, telah hadir mempercantik langit di kala sore.
                                                                                                Penikmat senja

Minggu, 05 Juni 2016

Assalamualaikum Ramadhan



“Aku yang dulu bukanlah yang sekarang” Sedikit mengutip dari lagu yang sering dinyanyikan orang-orang beberapa waktu lalu. Aku, kamu, kita, mereka, bukanlah seorang yang selalu sama setiap waktunya, bukan pula menjadi orang lain dengan segala keunikannya. Kita hanyalah orang yang bergerak maju, mengungkap semua takdir yang terus melaju, menjadi pribadi baru untuk menjadi kuat. Kuat bukan berarti dapat memikul semua beban yang berkilo-kilo dengan kekuatan tangan. Kuat disini maksudnya lebih tegar, lebih sabar, lebih siap dengan segala kedaan. 

Orang-orang berkata tentang masa lalu yang menyakitkan harus dilupakan, bagiku tidak harus seperti itu. Masa lalu itu adalah bagian dari diri kita sendiri, semenyakitkan apapun, setidak menyenangkan apapun, toh itu semua telah lewat dan hanya melintas sesaat. Banyak hal terjadi begitu saja tanpa kita rencanakan, banyak pula ekspresi yang kita tunjukkan. Sedih, senang, bingung, galau, datar, semua hal terjadi karena rencana tuhan. Kadangkala kamu menyalahkan keadaan karena tak pernah mau memihak, tapi sebenarnya kamulah yang tak pernah baik dalam memilih. 

Aku, kamu, kita, mereka mungkin punya cerita yang tidak menyenangkan, tapi aku, kamu, kita, mereka, sekarang berbeda. Seseorang yang mungkin lebih dewasa dalam menyikapi kehidupannya. Seseorang yang mungkin akan terus berbenah. Seseorang yang mungkin terus bergerak maju menatap masa depannya.

Assamualaikum Ramadhan
Maaf atas semua khilaf dan salah. Aku yang sekarang mencoba berbenah

Kamis, 26 Mei 2016

Hari ini ....

Aku selalu percaya dengan sesuatu yang disebut takdir. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi satu hal yang aku yakini takdir selalu menuntun ke arah pilihan yang seharusnya dibuat.
Hari ini, sepertinya hujan memberikan pertanda atas kebimbangan beberapa waktu lalu. Sebisa apapun usahaku, ketika takdir tak mengizinkan tandanya aku memang tidak harus memilih itu.
Hujan memang cukup menyebalkan, meskipun begitu aku tetap menyukainya.


Bersama teduhnya hujan, harap takdir yg tersampaikan.   

Rabu, 25 Mei 2016

Surat Penggemar



Percayakah kamu dengan sesuatu yang disebut takdir?. Pertemuan, perpisahan, semuanya adalah bagian dari takdir yang skenarionya sudah dibuat Tuhan. Entah takdir itu membahagiakan, atau juga menyakitkan. Bagiku, takdir adalah sesuatu yang cukup mengagumkan, dimana sesuatu terjadi tanpa terduga ataupun ku rencanakan. Seperti alunanan lagu yang mengalir begitu saja dengan indah. Nada adalah sesuatu yang abstrak, tak bisa kusentuh tapi bisa kurasakan indahnya.

Setiap lagu yang ku dengarkan, setiap alunan music yang beriringan, pada saat yang sama aku menatap dari kejauhan. Harap-harap cemas hanyalah sebuah ilusi dalam ketakutan yang menyambung seperti sebuah tali. Bagiku, lagu adalah sebuah penggambaran suasana hati, entah itu menyedihkan, membahagiakan, atau malah datar saja.

Seperti sebuah melody dalam harmoni yang berjalan teratur. Kamu adalah lagu kesedihan diringi bahagia yang tak bisa aku gapai. Nada-nadamu mengalun indah dipelataran bersama tatapan mata yang selalu gusar. Ah ya aku ingin sedikit berbicara tentang mimpi . Mimpi bukan hanya bunga tidur, mimpi adalah sesuatu yang harus diwujudkan. Tak peduli apa tanggapan orang, tak peduli apa yang akan terjadi didepan. Berdirilah, bangkitlah, berjuanglah demi mimpi yang menunggu diseberang sana. Jangan takut bermimpi, karena tidak ada yang salah dari sebuah mimpi. Sampai ketemu lagi ^^

Admirer