Kamis, 15 September 2016

Seumpama


Seumpama bunga, kita adalah bunga-bunga baru yang sedang belajar merekah, karena baru belajar tanpa sadar tiba-tiba patah, lengah, dan akhirnya menyerah. Rapuh, terlalu takut mencoba. Alasannya percuma. Percuma menjelasan logika, saat mata tertutup untuk menanggapinya. Percuma membawa bahan, saat pikiran mengolah saja enggan.


Seumpama hujan, kita adalah gerimis yang enggan. Menerka-nerka apakah harus mempercepat kelajuan atau tetap turun secara perlahan. Tak teguh pendirian, bingung dengan keadaan. Bersama tapi tidak membuat kemajuan. Melangkah tapi tak beriringan.


Maaf, mungkin aku hanyalah perindu yang tak jemu-jemu menanti hadirmu. Bertanya lagi dan lagi kapan akhirnya kita bertemu.

Kamis, 08 September 2016

Bukan Tentang Apa,

Bukan tentang apa, bukan tentang mengapa. Bagimu mungkin menyenangkan untuk tertawa, tapi bagiku semua biasa saja. Biasa bukan berarti aku menyukainya, karena rasa suka tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata. Biasa saja bukan berarti aku membencinya, kadang kala rasa benci terlalu unjuk diri hingga aku harus menjauhinya.


Bukan tentang cinta, tentang dia, atau tentang siapa. Hanya tentang aku dan kau yang tak mau bicara. Bicara memang tidak mudah, meski diam menyesakkan dada. Kau tahu, kadangkala aku begitu frustasi mendengar sesuatu yang sama sekali tak ku mengerti. Menumpahkan perasaan pada ujung jari dituts-tuts keyboard pada notebook putih. Kau tahu, meski aku mencoba berkali-kali tetap saja mimpi hanyalah mimpi, apa mungkin terlalu tinggi atau aku yang tidak benar-benar menyelami.
Kau yang diam, aku yang banyak bicara. Hai hati, tidak ku mengerti apa mau mu selama ini, banyak hal yang aku jalani tapi kau tak pernah merasa puas diri. Masih saja bingung, masih saja linglung. Bertanya-tanya apa yang ingin dilakukan, menerka-nerkan keadaan. Coba, coba saja kita singkron, senada, seirama, berjalan bersama pasti jadinya tak akan sedemikian rumitnya.
Ku mohon, beri aku kata kunci yang jelas. Apa yang bisa membuat tenang, membuat senang.

Selasa, 06 September 2016

Ada Banyak Hal Yang Terjadi



Ada banyak hal yang terjadi, tersimpan rapi sebagai sebuah memori. Ternyata sudah lama tak bersua, berbalut keegoisan yang kian menjelma, mengikis kiat usaha yang tak disertai do’a. Who I am I ? Judul film Jackie Chan ? Mungkin. Siapalah saya ini, hanya satu dari sekian banyak orang yang suka sekali menanti, suka sekali meninggi, suka sekali lupa diri. Bukan suka sekali, tapi memang sudah terbawa kebiasaan sehari-hari.

Ada banyak hal yang terjadi, melingkup indah dengan segenap pencitraan, memberi warna pada titik hitam kehidupan. Setiap yang datang pasti akan pergi, kapanpun, dimanapun kita pasti akan mengalami yang namanya meninggalkan atau ditinggalkan. Melupakan, dilupakan, meninggalkan, ditinggalkan. Hak untuk pergi, hak untuk tinggal semua sudah diatur dalam kebebasan yang dimiliki masing-masing individu. Kapan harus kembali, kapan harus pergi lagi, semua sudah tersusun rapi sebagai dampak dari kejadian sehari-hari. Bukan tidak mungkin, sesuatu yang pernah dekat sekali jaraknya kini menjauh sejauh-jauhnya. Bukan tidak mungkin, sesuatu yang pernah berjalan mengiringi kini mulai beranjak pergi. Bukan tidak mungkin :)

Ada banyak hal yang terjadi, tertutup kemunafikan yang terus unjuk diri, mengaku tidak suka padahal menyakiti diri sendiri. Kita tidak pernah tahu yang terjadi didepan, kadangkala tanpa disadari banyak terjadi kebetulan. Kebetulan yang kadangkala bisa menjatuhkan. Kapan saja kita bisa jatuh, jatuh pada sesuatu yang sebenarnya begitu jauh, meringkuk kesepian menikmati gemuruh.
Ada banyak hal yang terjadi. Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dua puluh tahun banyak hal terjadi, terekam indah sebagai sebuah memori. Dua puluh tahun, entah apa yang harus diperbaiki, kadangkala kebingungan lebih banyak daripada yang ingin dilakukan. Assalamualaikum dua puluh :) 

Kamis, 04 Agustus 2016

Hilang



Ada yang hilang, kepingan terakhir dari puzzle yang ku coba susun ulang. Ada yang hilang, bagian penting dari memori yang sebelumnya kuputar ulang. Ada yang hilang, serpihan dari hati yang terbang melayang.

Ada yang hilang, iya ada yang hilang.

Hilang. Hilang berarti tidak ada, pergi entah kemana, atau tidak ditemukan dimana-mana. Banyak hal dalam hidup yang akan hilang keberadaannya jika dibiarkan begitu saja. Seperti debu jalanan, berterbangan atau habis disapu hujan. Hilang menyisakan sesuatu, sesuatu yang amat sulit dipahami meski dijelaskan berkali-kali, sesuatu yang abstrak meski dipetakan berulang kali. Hilang menyisakan sebuah tanda taya tanpa makna, tanda tanya akan terbawa kemana nantinya, tanda tanya akan seperti apa nantinya. Hilang menelusup kedalam jiwa, membuat pemberontakkan kecil pada perasaan yang kian sirna, menembus dasar hati hingga sampai diujung muara.

Sampai hari esok, hingga sesuatu yang benar-benar kamu banggakan hilang nyaris tak bersisa, saat arah dan tujuan entah kemana, saat passion yang semula kamu banggakan perlahan-lahan sirna, terkikis habis oleh berbagai hal tak terduga. Dimana kehidupan yang nyaman ? Dimana kehidupan impian? Dimana?. Hanya ada hati yang rapuh entah kenapa terus saja mengeluh. Hanya ada pikiran dangkal yang jalannya terus saja buntu. Disaat itu semua, disaat tekanan jiwa naik intensitasnya, disaat kerapuhan mulai mengikis jiwa, hanya sebuah do’a yang kupanjatkan pada sang pencipta.
3 bulan yang sia-sia. Hilang begitu saja tanpa sisa, membiarkan hari esok menunggu tanpa jeda.

Jumat, 29 Juli 2016

Sesuatu Yang Kamu Sebut Rindu



Terlalu dalam, terlalu pakam, sebuah kenyataan yang pernah kamu ceritakan. Hingga sosok  bernama rindu itu hadir, muncul benihnya hingga tersebar kemana-mana. Menyebar bukan berarti banyak, hanya secuil dan mulai bertunas secara tiba-tiba. Tunas itu tidaklah kuat hingga sampai tumbuh menjulang, ia hanya berkecambah suatu saat bisa patah atau juga terbawa derasnya hujan. Lagi pula, sesuatu yang kau sebut rindu itu bukanlah sesuatu yang special, saking tidak specialnya ia tertelan malam hingga pagi kembali memuntahkan. Saat sore hujan menerjang, membawa badai debu berterbangan sambil menghapuskan, menyiram rindu hingga kehabisan. Rasanya baru kemarin, masih seumur jagung, hingga kenyataan itu benar-benar patah. Saat mantra-mantra itu habis, atau saat benih yang baru disemai terbawa air hujan. Saat itu, menunggu adalah berita bohong seperti banyak terpapar di social media.

Oh hati yang sedang rindu, entah sajak apa yang harus kupersembahkan untukmu. Atau  kata apa yang menggambarkan dirimu. Merindu tidak harus cinta, tidak harus punya perasaan, tidak harus dispesialkan. Rindu hanya sebatas rindu, sebatas keinginan untuk bertemu. Hanya itu.
Reni Ayt

Jumat, 22 Juli 2016

Perjalanan

Bukan tentang pulang, bukan tentang kapan harus kembali, bukan tentang seberapa lama akan pergi. Bagiku ini hanyalah sebuah perjalanan, perjalanan saat harus membuka mata hingga petang menjelang, atau menatap kabut saat mata tak mampu terpejam. Saat itu hanya dingin berbisikkan angin malam, menelusup dalam kepingan bara hati yang kian padam, menyesap dalam kulit yang kian mengusam. Saat hati tak mampu mengungkap, menyibak setiap takdir yang datang tanpa memihak. Saat bibir tak mampu berucap, hanya desahan nafas lelah membuat sesak. 

Disuatu tempat diujung sana, dalam kehampaan bersama hati yang kian merana, bersama penantian yang tak kunjung menjelma, ada harap-harap cemas saat aku mulai melangkah. Banyak perjalanan yang menanti didepan sana, kini liburan kian menipis, sebentar lagi pasti akan habis. Banyak hal yang harus dilakukan, banyak pelajaran yang harus diterampilkan. Perjalanan, hingga suatu saat akan berhenti. Entah kapan dan dimana.


Jumat, 17 Juni 2016

Senja



Selamat pagi, selamat siang, selamat sore selamat malam, kapanpun kau membaca anggap saja aku seperti sedang menyapa. Sudah lama aku tak mengisi blog, lebih dari sepuluh hari mungkin. Mengapa aku melakukannya ? Aku hanya sedang bingung beberapa hari belakangan, memutuskan menulis, membuka laptop, membuka word mengetik beberapa kalimat lantas laptop kututup lagi, terus terjadi seperti itu ketika aku hendak mencoba menulis sebuah cerita fiksi. Ada ide, buka laptop lagi, selang lima menit aku bingung harus memulainya dari mana. Baiklah cukup basa-basinya.

Ketika senja beranjak. Aku mulai gelisah melihat langit yang tak lagi ceria. Bukan tentang mengapa ia harus pergi, tapi mengapa aku masih menunggunya disini seakan ia akan  cepat kembali. Ketika senja beranjak, aku sibuk merangkai ribuan kata untuk ku jadikan kalimat tepat salam perpisahan dengannya, tapi nyatanya aku terlambat saat malam menelannya lamat-lamat. Ketika senja beranjak. Aku mulai kesepian menatap kepergiannya dengan penuh kebodohan. Betapa bodohnya aku membiarkannya pergi begitu saja. Betapa bodohnya aku tak sempat mengucap sepatah kata. Betapa bodohnya aku hingga matahari hampir tenggelam aku masih sibuk menatapnya.

Senja, kau yang hadir sesaat menyisakan banyak pertanyaan menggantung dipikiranku. Mengapa harus sebentar diantara waktu satu hari yang dua puluh empat jam?. Mengapa hanya hadir ketika matahari perlahan-lahan mulai tenggelam ?. Mengapa tak kau biarkan aku yang bodoh ini tetap menatapmu sepuas yang ku mau?.

Tahukah kau senja, aku dan segala hiruk pikuk dunia ini punya cerita. Aku hanya ingin berbagi cerita seandainya kau memiliki waktu lebih lama. Tapi sayangnya, waktumu hanya sebentar dan ketika aku ingin mulai pembicaraan aku hanya diam terpaku menatap betapa agungnya yang telah menciptakanmu. Senja, yang ku tahu beberapa hari ini kau tidak hadir, digantikan hujan yang pada akhirnya membuatku ketakutan. Kilas cahaya yang membelah langit selalu tak mengenakkan. Senja, aku suka hujan, tapi tidak dengan kilat dan petir yang memekikkan.

Senja, aku selalu mengagumi mu. Aku adalah seorang pengagum yang tak pernah menujukkan identitasnya. Betapa bodohnya aku ini, bukan ? Aku harap pertemuan-pertemuan selanjutnya aku tak lagi merasa kesepian. Aku lebih bisa mengontrol perasaan. Hanya memandangimu itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih senja, telah hadir mempercantik langit di kala sore.
                                                                                                Penikmat senja